Jangan dipikir kalo kita semua tuh demen nonton tinju. Juga jangan berpikir kami hobi maen tinju. Tapi jangan sampe anda berpikiran bahwa kami benci ato ga mendukung olahraga ini. Sebaliknya kami amat sangat very very mendukung adanya undang-undang larangan meninju sembarangan di tempat umum apalagi di tempat yang basisnya akademik seperti kampus, sekolah, tk, playgroup, atau bahkan di masjid sekalipun, nanti lo bisa digebukin ajo soalnya, hehe :p.
Mengapa kami mendukung ? Karena teman kami yang bernama ian mengalami peninjuan secara sengaja dengan maksud beneran di lingkungan akademik dan jelas-jelas sakit rasanya layaknya jika pala lo dicium komodo bunting. Sebuah kejadian yang tentunya menimbulkan beberapa trauma seperti :
1. Trauma Ian pada yang meninju
Jelas karena Ian ga bakalan berani lagi becanda sembarangan apalagi ngehamilin anak orang.
2. Trauma ditinju
Ian akan menyeleksi lagi jenis-jenis pukulan yang mengarah padanya, apakah dikategorikan sebagai pukulan petinju freelance (magang), sangat amatir, amatir, semi-pro, atau bahkan pro.
Kemampuan yang berguna bagi teman-temannya tampaknya. Tampaknya dia juga akan bisa memprediksi apakah seseorang akan meninju dan jenis pukulannya, seperti : upper-cut, hook, jeb, atau jeblay.
3. Trauma ke kampus
Yang ini sich kayaknya ga perlu ditinju juga yang bersangkutan udah males ke kampus.
tapi gimana orang yang hidupnya selalu malang dan tertindas ini bisa sampe mencicipi paitnya ditonjok? Menurut narasumber kami yang terpercaya, yaitu sang korbannya sendiri, seperti ini tragedinya.
Di suatu hari Minggu yang sama sekali bukan hari kejepit di bulan Juli di Jatinangor pada tahun 2008, anak-anak AN 07(jurusan kita tercinta,:p) rencananya ngadain latihan buat persiapan pembinaan nanti. Namun karena satu, dua, tiga, empat, lima, serta puluhan hal lainnya, latihan akhirnya sukses dibatalkan. Sebagai gantinya, ketua panitia pembinaan AN malah ngadain rapat akbar(harusnya si akbar aja yang rapat,tapi kenapa kita ikutan yak?). Anak-anak yang udah datang jauh-jauh ke Nangor , udah dandan rapi-rapi, cantik-cantik, dan ganteng-ganteng seperti kita ini, malah ada yang udah bawa peralatan latihan sendiri macam senapan angin, umpan buaya, dan kacamata 3 dimensi jelas kecewa dan bĂȘte berat melebihi bete-nya dewiq.
Keadaan malah tambah rusuh karena anak-anak ngebayanginnya tuh bakal gila-gilaan kayak pas latian hari Sabtu kemaren dan bukan sabtu taun kemaren tentunya. Pas rapat dimulai dan ketua beserta sekum(sekretaris umum) udah mulai ngomong, anak-anak malah pada bikin rapat sendiri dengan homoan atau lesbian masing-masing ato dengan kiri-kanan, depan-belakangnya, dan juga atas bawahnya. Keadaan makin parah pas sang sekum lagi ngomong. Mungkin hanya ada 1-2 orang yang dengerin ato paling banyak bisa diitung pake ceker ayam. Dari mereka-mereka yang dicurigai ngederin omongan sang sekum, hanya mungkin ada beberapa yang bener-bener dengerin, seperti sekretaris (yang emang tugasnya nyatet tiap agenda juga omongan yang keluar dari mulut orang-orang di forum bahkan mungkin ampe batuk-batuknya dan taik-taiknya) dan ketua (yah walaupun terpaksa juga), sedangkan sisanya dengerin, dengerin gosip.
Keadaan ini dengan sukses mebuat sang sekum menjadi orang yang paling stress. Jelas aja, dia ngomong eh yang laen malah ajep-ajep. Akhirnya, sesuai kebiasaannya, sang sekum mulai mengeluarakan sebatang rokok karena emang dia selalu begitu kalo stress, ngerokok(bukan dirokok). Saat ia sedang asik-asiknya menghisap rokok,tiba-tiba ian dengan sadar tapi gila mengeluarkan sifat alamiahnya layaknya binatang, yaitu NYOLOT.
“Anak tatib, ni ada yang ngerokok. Masa sekumnya ngerokok, ngasih contoh yang ga baik ni,” kata Ian setengah bercanda. Ian emang bener karena dalam peraturan ada larangan merokok saat ada rapat akbar. Yang ngelanggar akan dapat sanksi olahraga dorong-naik (push-up) yang cuma sedikit, yaitu 50 kali.
Sang sekum yang marahnya udah nyampe ubun-ubun jelas keki bin jijay.
“Ganti, anying, ganti. Jangan Cuma ngomong doank,” kata sang sekum kesal.
Tiba-tiba sang sekum yang kebetulan duduk dekat Ian menunjukkan gestur mau ninju. Ian yang kritis (begonya yang kritis) senyum-senyum aja. Tiba-tiba sebuah tinju mendarat dengan tepat dan selamat tanpa tergelincir sedikitpun keluar dari area pendaratan yaitu muka Ian. Anak-anak yang kebetulan ngeliat kejadian itu bengong; Sang sekum yang berhasil mendaratkan pesawat bernama tinju dengan sangat sukses dan mulus keliatan kesakitan; Eka yang kebetulan ada di deket Ian, terpana tapi menunjukkan gestur pengen ketawa tapi ga tega; Ian, jelas kesakitan karena ada ‘pesawat’ tinju yang mendarat tanpa minta izin ke menara pengawas yaitu otaknya (otak udang) dan sang tinju meninggalkan sebuah tanda yang berwarna biru(bukan tenda biru).
Sang sekum dan Ian ‘diceraikan’ dari adegan ‘mesra’ tersebut oleh orang-orang yang ga terima kalo hanya mereka berdua yang terlibat. Ian yang kesakitan akhirnya menutup ‘area pendaratan’ selama berlangsungnya rapat. Sampai waktunya pulang dan (mungkin) sampai hari ini tidak diketahui dengan pasti apakah mereka berdua akhirnya rujuk kembali atau tidak.
Keesokannya Eka ngasih tau ke Arung yang baru datang dari Pamulang dan singgah di kosan Eka. Dapat dipastikan bahwa Arung dengan amat sangat terpaksa harus tertawa ngakak. Begitu pula dengan Ikbal yang datang ga lama, yaitu 2 jam kemudian (ikbal si raja ngaret). Singkatnya, mereka bertiga ngesms Ian suruh dateng ke kosan Eka. Pas Ian nyampe, dengan belas kasihan yang amat sangat, mereka bertiga mengasihani Ian dengan cara tertawa sepuasnya. Mungkin zaman sekarang adalah lumrah menertawakan orang yang sedang kesakitan ato susah dan menangis ketika orang lain sedang jaya atau sedang on form.
1 komentar:
huahahaha....
parah lo org kesakitan malah diketawain... ^^
tp,, gw saksi mata di situ loh ka... :)
Posting Komentar